Mengenai Saya

Foto Saya
Saya salah seorang yang cukup concern thdp pendidikan, terutama pendidikan utk anak usia dini. Pendidikan S1 dan S2 PAUD UNJ saya telah banyak membantu dalam pengembangan dan pendalaman kajian AUD.

Minggu, 03 April 2011

Pembelajaran Sains utk AUD

A. Konsep-konsep Dasar Sains

1. Pengertian Sains Permulaan

Menurut istilah secara umum, Sains adalah proses pengamatan, berpikir, dan merefleksikan aksi dan kejadian/peristiwa. Sains merupakan cara kita berpikir dan melihat dunia sekitar kita. Ini adalah salah satu cabang ilmu atau subjek bahasan yang mengkaji fakta-fakta/kenyataan yang terkait dengan fenomena alam. Pengkajian ini pun perlu dilakukan secara berkelanjutan (Isaac Asimov, 1995). Sejalan dengan pendapat yang disampaikan oleh Kilmer dan Hofman (1995:60) bahwa Sains merupakan pengetahuan tentang fenomena-fenomena tertentu,…proses yang digunakan untuk mengumpulkan dan mengevaluasi informasi,…dan sebagai bentuk adaptasi manusia pada lingkungan.

Pendapat di atas senada dengan pemahaman tentang sains yang disampaikan oleh Brewer yang mengatakan bahwa sains adalah semua yang ada/nampak di sekitar kita, terjadi di mana kita berada. Sains pada anak-anak usia dini dapat diartikan sebagai hal-hal yang menstimulus mereka untuk meningkatkan rasa ingin tahu, minat dan pemecahan masalah, sehingga memunculkan pemikiran dan perbuatan seperti mengobservasi, berpikir, dan mengaitkan antar konsep atau peristiwa.

Ada beberapa kriteria yang perlu dipahami ketika pembelajaran sains diterapkan pada anak, setidaknya hal ini berlaku pada anak usia 3-8 tahun (Kilmer & Hofman, 1995:62). Berikut adalah kriteria dalam menerjemahkan definisi sains:

No

Boleh Dilakukan

Tidak Boleh Dilakukan

1

Berpartisipasi secara aktif

Menghafal banyak fakta

2

Memanipulasi benda-benda dan bahan-bahan di sekitarnya

Mengamati guru yang melakukan banyak demonstrasi dan menggunakan benda-benda

3

Menyelidiki fenomena yang terjadi

Mempelajari isi yang tidak ada kaitannya dengan ilmu pengetahuan atau pengalaman anak

4

Merefleksikan pada pertanyaan yang memungkinkan banyak jawaban

Dibatasi oleh pertanyaan dari guru yang mengerucut pada 1 jawaban atau dengan memberitahu apa yang diharapkan

5

Mengamati hasil dari kegiatan mereka sendiri

Kurangnya kesempatan untuk mengamati hasil kegiatannya sendiri

6

Mengalami sendiri kegiatan yang terencana dan spontanitas

Mengalami sains sebatas aktivitas yang direncanakan guru

7

Menyelidiki dan bekerja secara individu maupun kelompok kecil

Ikut serta dalam kegiatan sains hanya dalam kelompok besar

8

Menyelidiki berbagai konsep dasar

Mempelajari hanya 1 atau 2 konsep

9

Mengeksplorasi berbagai macam isi kehidupan, bumi, dan pengetahuan fisik

Mempelajari isi yang terbatas

10

Menguji pengetahuan dan keterampilan mereka dengan berbagai cara

Menguji pengetahuan dan keterampilan mereka hanya melalui tes tertulis

2. Aspek-aspek Kemampuan Sains Permulaan

Untuk menentukan aspek-aspek kemampuan dalam sains maka perlu diketahui dahulu proses ilmiah yang menjadi dasar dalam pembelajaran sains. Proses ilmiah adalah sebuah siklus pembentukan hipotesa, pengumpulan data, memperkuat atau menolak hipotesa, membuat kesimpulan, lalu mengulangi siklusnya. Kemampuan dasar yang digunakan dalam proses ilmiah meliputi: mengamati (observing), mengklasifikasikan (classifying), membandingkan (comparing), mengukur (measuring), mengomunikasikan (communicating), mencoba (experimenting), menghubungkan, menyimpulkan, dan menerapkan (relating, inferring, and applying). Rohan Abdullah (2001:76) mengemukakan secara jelas aspek-aspek yang ada dalam sains permulaan atau pada anak-anak prasekolah, yaitu: observasi, klasifikasi, mengukur, estimasi, eksperimen, dan komunikasi.

3. Aktivitas Pembelajaran Sains Permulaan

B. Realitas Pembelajaran Sains di Satuan PAUD

Sains pada pendidikan anak usia dini, dapat mendorong anak untuk mengeksplorasi lingkungan dan merefleksikannya dengan melakukan pengamatan dan penemuan. Idealnya, sains bukan waktu yang dipisahkan dari pengalaman-pengalaman lain. Ini merupakan bagian dari pendekatan terus menerus yang terintegrasi, di mana anak-anak berpikir dan membangun pengertian dasar tentang dunia. Secara sederhana anak sudah mampu membuat hipotesa berdasarkan data yang dikumpulkannya. Mereka dapat memperkirakan dan memperbaiki perkiraannya tersebut hingga akhirnya dapat menarik kesimpulkan melalui percobaan, ataupun mengoperasikan data secara sederhana.

Banyak guru mengatakan bahwa mereka merasa kurang siap mengajar sains dibandingkan mata pelajaran atau bidang kemampuan yang lain. Hal ini terjadi dimungkinkan karena pemahaman yang salah pada guru yang menganggap bahwa sains memerlukan bahan-bahan yang rumit dan merupakan pelajaran yang sulit dikuasai. Sebaiknya pandangan seperti ini berubah di kemudian waktu bahwa sains sebagai aktivitas eskplorasi dan penyelidikan, bukan mempelajari kenyataan/fakta yang lebih spesifik.

Pada dasarnya, sains bukan merupakan pendekatan yang ditentukan dari pengalaman, melainkan merupakan bagian dari sebuah pendekatan terpadu yang sedang berlangsung di mana anak berpikir dan membangun dasar pemahaman tentang dunianya. Sains dilakukan oleh manusia dan akan memberi manfaat kemanusiaan. Manusia yang proaktif menguasai sains akan menjadi subjek, sedang manusia yang pasif atau hanya reaktif hanya menjadi objek dan konsumen dari produk-produk sains.

Sains adalah sesuatu yang nyata dan dekat, melekat pada diri kita, ada di sekitar kita, dan setiap saat kita tangkap dengan indera kita. Semuanya bisa kita baca, pahami dengan keindahan, asik dan menyenangkan. Bagi anak, sains adalah semua yang menakjubkan, sesuatu yang ditemukannya di alam, menarik, menstimulusnya untuk lebih mengetahui dan menyelidikinya, sebagai contoh ketika anak menangkap capung lalu memasukkannya ke dalam toples, memperhatikan perbedaan benda yang terapung dengan yang tenggelam, atau saat mereka bermain dengan magnit dan besi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar